Thursday, June 11, 2015

Jangan Sembarangan Bunuh-Bunuhan di Bali






Siapa sih yang nggak mengikuti kasus hilangnya Angeline, bocah cilik berusia 8 tahun yang tiba-tiba saja hilang dari halaman rumahnya pada tanggal 16 Mei 2015? Karena kakak angkat Angeline juga membuat laman Facebook Find Angeline yang dibuat sekitar 24-48 jam setelah si anak dikabarkan menghilang. Laman Facebook ini tenar, karena mendapat perhatian tidak saja dari kalangan warga Indonesia, tapi juga para expat yang tinggal dan rajin mengamati berita di Bali.

Lalu muncul juga pengusutan Polisi dan wartawan mulai datang bagai lalat mendatangi makanan enak. Apalagi karakter ibu angkat Angeline yang layak dijadikan antagonis dalam kasus ini. Spekulasi beredar, pemberitaan sudah tidak dua sisi lagi, tapi berbagai sisi tergantung siapa yang membeberkan berita. Polisi punya cerita lain, pihak keluarga ibu angkat Angelin (yang diwakili oleh laman Facebook tersebut), pihak KPAI, pihak sekolah, pihak ibu kandung.

Dan ketika orang-orang Jakarta ini (KPAI dan media) mulai datang, berita jadi melimpah tak keruan. Apalagi saat itu juga sedang hangat-hangatnya berita penelantaran atau 5 bocah di Bekasi oleh orangtuanya yang diduga pengguna narkoba. Saya akui, pemberitaan media itu menggiring publik pada opini bahwa Angeline ditelantarkan, sedang disembunyikan ibu angkatnya, dan lain-lain yang menyatakan bahwa keluarga inilah pelakunya!

Lalu jenazah si bocah diketemukan. Dibawah (atau digeletakkan, atau dikubur) di kandang ayam. Saya tadi sebutkan 'atau' karena posisi diketemukannya berbeda-beda menurut media. Dan KPAI segera menuding si ibu dengan mengatakan dia mencurigakan. Padahal selang lima jam kemudian turun berita yang menyatakan kalau pelakunya adalah satpam (atau pembantu - saya tuliskan atau dengan alasan yang sama seperti diatas). Pelaku tunggal. Dan posisi si ibu angkat sampai saat masih dalam pemeriksaan.

Saya agak geregetan sama kasus ini karena banyak pihak menyalahkan Polisi karena dinilai bergerak lamban. Bahkan adik saya sendiri tadi malam masih ngomel, kok bisa di dalam area rumah tapi nggak ketemu? Saya langsung saja bilangin adik saya supaya datang sendiri ke TKP, lihat lokasi yang sebenernya biar nggaka sal njeplak. toh pake motor aja 15 menit nyampe. Saya juga muak dengan media yang terus menerus menyudutkan si ibu angkat. Mungkinkah ibu angkat tidak membolehkan Pak Arist untuk inspeksi seluruh ruang dan kolong di rumah karena KPAI tidak ada kewenangan menyidik. Kalau Polisi yang digituin sama si ibu, jelas si ibu akan langsung ditahan dengan dasar menghalangi penyelidikan. Tapi kalo penyelidiknya orang luar yang bukan atas permintaan kita dan kita juga nggak tahu apakah dia penegak hukum atau nggak, saya rasa saya juga akan enggan. 

Tapi, sssttt, saya kasih satu rahasia. Biasanya kalau ada berita pembunuhan di Bali, pelaku dan motif akan cepat sekali ketemunya. Nggak percaya? Contohnya pembunuhan mutilasi dan pembunuhan turis, dan bule yang beberapa waktu lalu sempat ramai. Semua pasti sudah maklum betapa masyarakat Bali masih sangat percaya klenik, menjaga hubungan antara dunia halus dan dunia kasar. Dan saya juga baru tahu kalau ternyata, upacara kematian itu nggak cuma soal ngaben dan larung saja. Tapi juga ada acara 'pemanggilan arwah', yang biasanya adalah untuk mengkonfirmasi sebab musabab meninggalnya dan mungkin pesan-pesan kepada sanak keluarga yang ditinggalkan. Sebagai bahan pertimbangan penyelidikan, hal ini super banget. 

Dan satu peringatan lagi supaya jangan bunuh orang sembarangan di Bali. Karena lokasi yang ketempatan sebagai TKP harus melakukan upacara yang tentu saja mahal! Bahkan sopir taxi yang nggak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan Sheila Von Weise Mack harus 'membayar' hanya gegara koper berisi jenasah itu masuk ke bagasi mobil dan meninggalkan noda darah. Belum lagi ada sanki adat dari banjar kepada pemilik 'TKP', jadi kasihanlah kepada orang-orang yang nggak tahu apa-apa ini. 

Tinggal di Bali memang tidak praktis. Tapi dimana kita tinggal, kita harus menghargai dan menghormati adat istiadat setempat walaupun kita tidak percaya/meyakini. Karena itulah, tinggal di Bali adalah sebuah proses unik yang saya nikmati.

Salam.
Semoga Angeline bisa bahagia bertemu dengan ayah angkatnya yang telah tiada, yang dulu menyayanginya.

No comments:

Post a Comment